All About Mas Bayi (Ayah Akma bercerita) 1

Sore itu aku sedang asik menyusuri terasering ubud dengan diikuti Ima dibelakangku, kami berdua menikmati keindahan yang terhampar disana, dibeberapa lahan sawah terdapat para pekerja ada yang sedang membajak sawah-sawahnya ada juga yang hanya sekedar melihat keadaan sawah mereka.

Ima yang sejak tadi berjalan mengekoriku tidak terdengar bersuara, saat membalikkan badanku menghadapnya sambal bertanya kenapa. Dia hanya menjawab tidak apa-apa. Sejak pagi tadi kulihat wajahnya sudah pucat, sedikit memudarkan rona-rona yang biasanya terlihat jelas. Aku bertanya-tanya ada apa sebenarnya? Tapi toh tiap kali kutanya kenapa, jawabannya selalu ‘tidak apa-apa Mas’ persis seperti jawaban yang barusaja dia berikan padaku.

Khawatir? Tentu saja iya. Suami mana yang tidak khawatir melihat keadaan istrinya demikian. Saat ide mengajak kedokter terlintas di kepalaku. Segera aku mengutarakannya, dan lagi-lagi apa? Hanya gelengan yang dia tunjukan. Dia menolak saat aku ajak dia untuk memeriksakan kondisi tubuhnya ke dokter.

Begitu terus, sampai saat kami pulang ke Jogja pun dia tetep kekeuh dengan keputusannya yang tidak mau diajak ke dokter. Aku cukup kesal dengan sikapnya yang keras kepala itu. terlebih masalah lain yang timbul bebarengan mebuat fokusku terpecah. Aku yang khawatir pada Ima, sedangkan Ima yang tidak paham dengan kekhawatiranku membuat untuk pertama kalinya selama satu bulan kita menikah terjadi pertengkaran.

Sesekali aku masih tetap berusaha membujuknya untuk pergi ke dokter, melihat wajahnya yang semakin pucat serta tubuhnya yang semakin melemas membuat aku untuk mencoba menekan emosi ke dasar yang paling rendah, berusaha untuk tidak membentaknya. Tidak berhenti sampai disana, kekeras kepalaannnya it uterus berlanjut sampai rasanya aku marah besar.

Selesai dengan argument yang tidak sedikit pun menemukan titik temu aku meninggalkannya saat dia tengah menangis mencoba memberi ruang untuk menenangkan diri masing-masing. Karena jika aku masih tetap disana entah apa yang akan terjadi, aku mencoba meminimalisir keadaan yang memburuk.

Saat meninggalkan kamar masih kudengar isak tangisnya, hatiku ngilu mendengarnya. Akma bodohnya kamu. Seharusnya kamu tidak bersikap seperti itu. Ima bertindak demikian pasti ada alasannya kan? Bukankah biasanya juga begitu?

Aku yang sedang diliputi rasa marah dengan segera meredakannya. Berwudhu ya hanya itu yang ingin aku lakukan saat ini. Tanpa terlalu peduli pada keadaan sekitar aku melenggang menuju kamar mandi yang letaknya dekat dengan dapur.

®®®

Siang sudah berganti malam, keadaan masih belum membaik. Meski sebenarnya dalam hati aku merasa bersalah pada Ima, tidak seharusnya aku bersikap demikian. Seharusnya aku bisa lebih bersabar menghadapinya, lebih bersabar membujuknya. Mukan malah sama-sama terbawa emosi. Dan saat ini aku bingung, bagaimana aku harus memulai untuk memperbaikinya. Saat aku berniat memperbaikinya, tiba-tiba aku mendapatkan telephone penting dari sahabatku yang mengharuskanku untuk berangkat ke semarang malam itu juga, tidak bisa ditunda sedikit pun. Dengan berat hati aku memutuskan untuk pergi ke semarang malam itu, saat ingin berpamitan dengan Ima kulihat dia sudah tertidur lelap. Tidak ingin membangunkannya, aku hanya bisa menitipkan pesan pada Bunda untuk kemudian nanti disampaikan kepada Ima.

Dalam perjalanan aku masih tidak bisa fokus, pikiranku masih berkelana pada kejadian siang tadi, rasa menyesal, rasa bersalah, rasa khawatir itu masih mendominasi. Mencoba fokus pada pekerjaanku terlebih dahulu di semarang, baru nanti saat aku sampai di semarang atau besok pagi aku akan menghubungi Ima mencoba meminta maaf atas tindakanku yang mungkin saja sudah menyakiti hatinya.

®®®

Saat pekerjaan di Semarang selesai tanpa menunggu lama aku bergegas pulang ke Jogja, sesegera mungkin aku menginginkan hubungan aku dengan Ima baik kembali seperti semula, meski mungkin akan sedikit sulit. Tapi entah kenapa aku merasa sesuatu yang baik kan terjadi hari ini.

Sesampainya di rumah aku mulai mencari Ima, tetapi yang kudapati malah Ayah, adik perempuanku beserta suaminya dan juga adik bungsuku. Tidak lupa juga keponakanku yang cantic. Tapi saat aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah aku tidak mendapati adanya Bunda dan juga Ima.

Seperti peham dengan apa yang sedang aku pikirkan dan aku cari, tiba-tiba ayah mengatakan kalua Bunda sedang mengantar Ima ke dokter. benarkah? Syukurlah kalua begitu. Seketika perasaan lega itu hadir menelusup. Akhirnya Ima mau juga di ajak Ke dokter. ahh seharusnya memang aku bisa lebih bersabar klagi dan lebih lembut lagi padanya. Buktinya dengan Bunda dia mau, aku tau kalua Bunda memang orang yang lemah lembut, sehingga tidak heran jika anak-anaknya sangat penurut.

Menunggu kedatangan Ima dan Bunda. Cukup lama, kami isi dengan obrolan hangat. Tiba-tiba dari pintu depan terdengar ucapan salam yang kuyakini itu adalah Bunda dan Ima. kami semua yang ada di ruang keluarga ini sontak menjawab salam secara bersamaan. Kuperhatikan Bunda menggenggam tangan Ima lembut, saat aku mengalihkan pandanganku pada Ima dia hanya tertunduk dalam tidak ada niatan sedikit pun untuk mengangkat kepalanya. Kenapa? Ada apa? Lagi-lagi timbul banyak pertanyaan di kepalaku. Apa dia sakit parah?

Tapi ternyata sesaat pertanyaan-pertanyaan itu digantikan dengan rasa kaget. Saat aku mendapati kabar membahagiakan, kabar yang sudah kami tunggu-tunggu. Ya tepat! Aku akan menjadi seorang Ayah, ada janin yang sedang tumbuh di dalam perut istriku.

Pada akhirnya semua keanehan-keanehan yang ditunjukkan Ima terjawab sudah. Sensitifnya, keras kepalanya, muka pucatnya, badan lemas nya. Ternyata ada kamu toh Mas, yang saat ini sedang bersemayam dan berlindung di perut Bundamu. Eh tunggu-tunggu. Mas? Mengapa aku merasa yakin kalua calon anakku adalah laki-laki. Ahh entahlah. Laki-laki atau pun perempuan itu sama saja. Sama-sama karunia terindah dari Sang Maha Pencipta.

Beribu syukur terucap dari setiap orang yang ada disini. Bersyukur atas kedatangan calon keluarga baru.

Sehat-sehat ya Nak!

Berita bahagia ini tidak diawali dengan kejutan dua garis merah pada sebuah alat, kabar bahagia ini justru datang di awali dengan sesuatu hal yg tidak menyenangkan. Ahh sudahlah tidak usah di ungkit, yang paling penting adalah kamu sudah hadir nak.

Sehat-sehat anak Ayah..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s